Minggu, 04 Juni 2017
PUISI
BUNGA KECIL
Belum terlihat keindahanmu....
semua seolah mengabaikanmu
seolah-olah tak terlihat
jangan bersedih bunga kecil
saat muali tumbuh besar....
keindahanmu mulai terlihat
dan semua mulai tertarik
mula berbahagialah bunga kecil
saat mekar....
keindahanmu terlihat jelas
semua mengagumi keindahanmu
an ingin menjadi sepertimu
mekar dan indah
tetap brbahagialah bunga kecil
by:vebydonari
Minggu, 21 Mei 2017
Semantik
A.Pengertian Semantik
Berikut ini adalah beberapa
pengertian semantic:
1.pengertian semantik
Semantik (dari Bahasa Yunani: semantikos, memberikan tanda, penting,
dari kata sema, tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung
pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Dengan kata lain,
Semantik adalah pembelajaran tentang makna. Semantik biasanya
dikaitkan dengan dua aspek lain:sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih
sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada
konteks tertentu.
Semantik Linguistik adalah studi tentang makna yang
digunakan untuk memahami ekspresi manusia melalui bahasa. Bentuk lain dari
semantik mencakup semantik bahasa pemrograman, logika formal, dan semiotika.
2. semantic dalam ilmu komputer
Dalam ilmu komputer, semantik merujuk pada arti bahasa, sebagai lawan
dari bentuk mereka (sintaks). Menurut Euzenat, semantik "menyediakan aturan
untuk menafsirkan sintaks yang tidak memberikan makna secara langsung tetapi
membatasi kemungkinan penafsiran dari apa yang dinyatakan." Dengan kata
lain, semantik adalah tentang penafsiran dari sebuah ekspresi. Selain itu,
istilah ini diterapkan untuk beberapa jenis struktur data khusus dirancang dan
digunakan untuk mewakili konten informasi.
3. semantic dalam bahasa pemprograman
Semantik dari bahasa pemrograman dan bahasa lainnya merupakan isu penting dan
bidang studi dalam ilmu komputer. Seperti sintaks bahasa, semantik dapat didefinisikan dengan
tepat.
4.semantic Dalam Linguistik
Dalam linguistik,
semantik adalah sub-bidang dikhususkan untuk mempelajari makna, seperti yang
melekat di tingkat kata, frasa, kalimat, dan unit yang lebih besar dari wacana
(teks disebut). Daerah basis penelitianadalah makna dari tanda-tanda, dan studi tentang
hubungan antara unit linguistik yang berbeda dan senyawa.
B. Unsur-unsur semantik
Semantik berhubungan dengan tanda-tanda, sintaksis berhubungan dengan gabungan tanda-tanda (susunan tanda-tanda) sedangkan pragmatik berhubungan dengan asal-usul, pemakaian dan akibat pemakaian tanda-taqnda di dalam tingkah laku berbahasa. Penggolongan tanda dapat dilakukan denagn cara:
1. Tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena pengalaman, misalnya:
a. Hari mendung tanda akan hujan.
b. Hujan terus-menerus dapat menimbulkan banjir.
c. Banjir dapat menimbulkan wabah penyakit dan kelaparan.
2. Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, diketahui manusia dari suara binatang tersebut, misalnya:
a. Anjing menggonggong tanda ada orang masuk halaman.
b. Kucing bertengkar (mengeong) dengan ramai suaranya tanda ada wabah penyakit atau keribytan (bagi masyarakat bangsa Indonesia yang ada di Jawa Barat), dst.
3. Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, tanda ini dibedakan atas:
a. Yang bersifat verbal, adalah tanda yang dihasilkan menusia melalui alat-alat bicara.
b. Yang bersifat non-verbal, dibedakan menjadi 2, yaitu:
1) tanda yang dihasilkan anggota badan, dikenal sebagai bahasa isyarat, misalnya acungan jempol bermakan hebat, bagus.
2) tanda yang dihasilkan melalui bunyi (suara), misalnya bersiul bermakna gembira, memanggil, ingin kenal, dsb.
Semantik berhubungan dengan tanda-tanda, sintaksis berhubungan dengan gabungan tanda-tanda (susunan tanda-tanda) sedangkan pragmatik berhubungan dengan asal-usul, pemakaian dan akibat pemakaian tanda-taqnda di dalam tingkah laku berbahasa. Penggolongan tanda dapat dilakukan denagn cara:
1. Tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena pengalaman, misalnya:
a. Hari mendung tanda akan hujan.
b. Hujan terus-menerus dapat menimbulkan banjir.
c. Banjir dapat menimbulkan wabah penyakit dan kelaparan.
2. Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, diketahui manusia dari suara binatang tersebut, misalnya:
a. Anjing menggonggong tanda ada orang masuk halaman.
b. Kucing bertengkar (mengeong) dengan ramai suaranya tanda ada wabah penyakit atau keribytan (bagi masyarakat bangsa Indonesia yang ada di Jawa Barat), dst.
3. Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, tanda ini dibedakan atas:
a. Yang bersifat verbal, adalah tanda yang dihasilkan menusia melalui alat-alat bicara.
b. Yang bersifat non-verbal, dibedakan menjadi 2, yaitu:
1) tanda yang dihasilkan anggota badan, dikenal sebagai bahasa isyarat, misalnya acungan jempol bermakan hebat, bagus.
2) tanda yang dihasilkan melalui bunyi (suara), misalnya bersiul bermakna gembira, memanggil, ingin kenal, dsb.
C. Jenis – Jenis
Makna
1. Makna Leksikal: makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, makna apa adanya, makna yang ada di dalam kamus.
Misalnya, kuda bermakna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
2. Makna Gramatikal: makna gramatikal terjadi apabila terdapat proses afiksasi, reduplikasi, komposisi dan kalimatisasi.
Misalnya, berkuda, kata dasar kuda berawalan ber- yang bermakna mengendarai kuda.
3. Makna Kontekstual: makna sebuah kata yang berada di dalam suatu konteks. Misalnya:
a. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih (bermakna kepala)
b. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
Makna konteks dapat juga berkenaan dengan konteks situasinya, yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu, misalnya: tiga kali empat berapa? Pertanyaan tersebut apabila dilontarkan kepada anka SD jawabannya adalah dua belas, tetapi apabila dilontarkan kepada tukang cetak foto jawabanya adalah dua ratus atau tiga ratus, karena pertanyaan tesebut mengacu pada biaya pembuatan pas photo yang berukuran tiga kali empat centimeter.
4. Makna referansial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Misalnya :
1) orang itu menampar orang
2) orang itu menampar dirinya
Pada (1) orang1 dibedakan maknanya dari orang2 karena orang1 sebagai pelaku dan orang2 sebagai pengalam, sedangkan pada (2) orang memiliki makna referensial yang sama dengan orang1 dan orang2 karena mengacu kepada konsep yang sama.
5. Makna kognitif disebut juga makna denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya, antara lain itu, ini, ke sana, ke sini.
Misalnya orang itu mata duitan.
6. Makna konotatif adalah makna yang bersifat negatif, misalnya berbunga-bunga sampai tidak tahu sedangkan makna sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif, misalnya dia adalah bunga di kampung itu.
7. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari sebuah konteks atau asosiasi apa pun, misalnya kata kuda memiliki makna konseptula sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
Misalnya Kuda memiliki konseptual sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai.
8. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.
misalnya kata melati berasosiasi dengan suci atau kesucian, kata merah berasosiasi dengan berani.
9. Makna idiom adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna berlainan.
misalnya meja hijau bermakna pengadilan, membanting tulang bermakna bekerja keras.
10. Makna pribahasa adalah makna yang hampir mirip dengan makna idiom, akan tetapi terdapat perbedaan, makna pribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai pribahasa, sedangkan makna idiom tidak dapat diramalka
1. Makna Leksikal: makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, makna apa adanya, makna yang ada di dalam kamus.
Misalnya, kuda bermakna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
2. Makna Gramatikal: makna gramatikal terjadi apabila terdapat proses afiksasi, reduplikasi, komposisi dan kalimatisasi.
Misalnya, berkuda, kata dasar kuda berawalan ber- yang bermakna mengendarai kuda.
3. Makna Kontekstual: makna sebuah kata yang berada di dalam suatu konteks. Misalnya:
a. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih (bermakna kepala)
b. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
Makna konteks dapat juga berkenaan dengan konteks situasinya, yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu, misalnya: tiga kali empat berapa? Pertanyaan tersebut apabila dilontarkan kepada anka SD jawabannya adalah dua belas, tetapi apabila dilontarkan kepada tukang cetak foto jawabanya adalah dua ratus atau tiga ratus, karena pertanyaan tesebut mengacu pada biaya pembuatan pas photo yang berukuran tiga kali empat centimeter.
4. Makna referansial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Misalnya :
1) orang itu menampar orang
2) orang itu menampar dirinya
Pada (1) orang1 dibedakan maknanya dari orang2 karena orang1 sebagai pelaku dan orang2 sebagai pengalam, sedangkan pada (2) orang memiliki makna referensial yang sama dengan orang1 dan orang2 karena mengacu kepada konsep yang sama.
5. Makna kognitif disebut juga makna denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya, antara lain itu, ini, ke sana, ke sini.
Misalnya orang itu mata duitan.
6. Makna konotatif adalah makna yang bersifat negatif, misalnya berbunga-bunga sampai tidak tahu sedangkan makna sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif, misalnya dia adalah bunga di kampung itu.
7. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari sebuah konteks atau asosiasi apa pun, misalnya kata kuda memiliki makna konseptula sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
Misalnya Kuda memiliki konseptual sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai.
8. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.
misalnya kata melati berasosiasi dengan suci atau kesucian, kata merah berasosiasi dengan berani.
9. Makna idiom adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna berlainan.
misalnya meja hijau bermakna pengadilan, membanting tulang bermakna bekerja keras.
10. Makna pribahasa adalah makna yang hampir mirip dengan makna idiom, akan tetapi terdapat perbedaan, makna pribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai pribahasa, sedangkan makna idiom tidak dapat diramalka
D. Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis
Dalam kajian linguistik, kita mengenal apa yang disebut dengan fonologi , morfologi , dan sintaksis . Fonologi merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang bertugas mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan dan mengidentifikasi kata-kata tertentu . Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari pembentukan kata . Sementara itu, sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda bahasa , yakni hubungan antara kata/frasa yang satu dengan lainnya dalam suatu kalimat. Semantik sebagai cabang ilmu bahasa memiliki hubungan yang erat dengan ketiga cabang ilmu bahasa di atas (fonologi, morfologi, dan sintaksis). Ini berarti, bahwa makna suatu kata atau kalimat ditentukan oleh unsur bunyi (tekanan suara dan atau nada suara atau yang lebih umum adalah suprasegmental), bentukan kata (perubahan bentuk kata), maupun susunan kata dalam kalimat.
satra permainan tradisional
Permainan Tradisional Abc Lima Dasar di Indonesia
permainan tradisional Indonesia abc lima dasar
Masih ingatkah kamu dengan permainan yang satu ini? Nama
permainan ini diambil karena kamu bermaian abc an dengan mengunakan ke lima
jari. Permainan ini mengharuskan kamu berfikir dengan cepat. Memainkan
permainan tradisional yang satu ini tidak menggunakan alat apapun hanya
menggunakan jemari kita sebagai perhitungannya.
permainan ini dimainkan oleh tiga sampai lima orang, semakin
banyak semakin seru. Cara bermainnya mudah, kamu dan teman-temanmu menyepakati
nama-nama yang nantinya akan menjadi tema, misalkan nama-nama hewan, nama-nama
pemain bola atau nama-nama negara. Nama-nama tersebut akan menjadi tema
permainan tradisional abc lima dasar.
Setelah itu kumpulkan jari-jari temanmu dan mulai berhitung
dengan huruf alfabet. Contoh, semua jari yang keluar dari teman-teman ada 10
huruf alfabet kesepuluh adalah “H” nah huruf ini akan menjadi huruf nama-nama
hewan yang berawalan huruf “H”.
Pemain yang menjawab paling akhir atau tidak bisa menjawab
akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati diawal permainan. Manfaat
permainan ini adalah mempercepat kinerja berfikir otak.
Sumber : http://azzamaviero.com/
Contoh Morfologi Dalam Cerpen
CONTOH MORFOLOGI DALAM CERPEN
Ari adalah seorang juru masak yang sangat terkenal
dan patut diperhitungkan didesanya, yaitu desa suka maju . Tanpa kehadiran Ari, maka sebuah perhelatan kenduri tidak
akan meriah dan memuaskan tamu undangan. walaupun demikian, Ari tidak pernah
pandang bulu dalam melayani pesanan masyarakat desa suka maju.
Ketika usia Ari senja, anak Ari yakni Azrial
mengajaknya untuk tinggal bersama di Jakarta. Akan tetapi, Ari bimbang
memikirkannya karena hanya terdapat satu juru masak didesanya. Sehingga Ari
meminta pada Azrial untuk diberikan satu kesempatan lagi untuk memasak pada
kenduri milik anak Mangkudun.
Proses Morfologi
kalimat 1
moefem
: 22
moefem bebas : 16 (Ari ,adalah, orang, juru, masak,
yang, sangat, kenal, dan, patut, perhitung ,desanya, yaitu, desa ,suka, maju)
morfem
terikat : (di,ter,se,per,an)
kalimat
2
morfem
: 21
morfem bebas : 14 (Tanpa,hadir,Ari,maka,sebuah,helat,kenduri,tidak,akan,meriah,dan,muas,tamu,undangan)
morfem
terikat : 5 (ke,per,an,me,kan)
kalimat
3
morfem
: 18
morfem bebas : 14
( walaupun, demikian, Ari, tidak ,pernah ,pandang, bulu ,dalam, layan,
pesan, masyarakat, desa, suka, maju.)
morfem teikat :4 (me,I,an,di)
kalimat
4
morfem
:15
morfem bebas: 12 (Ketika,usia,Ari, senja, anak,
yakni, Azrial, ngajaknya, untuk, tinggal,sama,jakarta.)
morfem terikat : 3 ( ber, me, di )
kalimat
5
morfem
: 16
morfem
bebas : 12 ( Akan, tetapi, Ari, bimbang ,mikirnya ,karena, hanya,dapat ,satu,
juru, masak, didesanya)
morfem
terikat : 4( me,kan,ter,di)
kalimat
6:
morfem
:24
morfem
bebas : 16 (hingga ,Ari, minta, pada ,Azrial, untuk, beri, satu ,sempat, lagi,
untuk ,pada ,kenduri ,milik, anak ,Mangkudun.)
morfem terikat :6 ( se,me,di,kan,ke,an)
HUBUNGAN TEORI ,KRITIK,DAN SEJARAH SASTRA
Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah
Sastra.
Berikut adalah pembahasanya:
Berikut adalah pembahasanya:
Sejarah Sastra ada
baiknya bila kita mengetahui apa itu pengertian dari teori sastra,kritik
sastra,dan sejarah sastra. Berikut ada lah pengertiannya:
Teori sastra ialah cabang ilmu
sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria
karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang
dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik
yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati.
Kritik sastra juga bagian dari ilmu
sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra,
kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra
Sejarah sastra bagian dari ilmu
sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya
dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang
mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra,
serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra.
Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang
mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai
bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.
Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu
daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang
dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan
atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu.
Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra,
antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.
Kamis, 18 Mei 2017
MORFOLOGI
MORFOLOGI
Morfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk
kata
Morfologi terbagi menjadi 2 yaitu:
a.
Morfem bebas: adalah morfem yang bisa berdiri
sendiri ( kata dasar)
b.
Morfem terikat: adalah morfem yang tidak bisa
berdiri sendri
Hasil dari morfen terikat adalah
1)
Kata berimbuhan
2)
Pemajemukan kata
3)
Pengulangan kata
Bentuk-bentuk kata
Berikut ini adalah bentuk-bentuk kata:
a.
Kata dasar
Adalah kata yang belum berimhan atau tidak
berimbuhan
Contoh: sepeda,makan,masak,tidur dsb
b.
Kata imbuhan
Bisa disebut kata turunan yaitu kata-kata
yang telah berubah bentuk dan makna
Contoh: berlari,tertidur,bermain,dsb
c.
Kata ulang adalah bentuk kata yang merupakan
pengulangan.
Contoh: ibu-ibu,rumah-rumah,adik-adik.dsb.
d.
Kata majemuk
Adalah kata terdiri dari dua atau lebih yang
berhubungan seara padu dan merubah bentuk arti atau makna.
Proses morfologi
Proses morfologi terbagi menjadi 3 yaitu:
1.
Proses afiksasi
Proses afikasi adalah proses mengimbuhkan
kata.dalam kata lain afiksasi adalah imbuhan
Berikut ini adalah proses afiksasi
a.
Prefix: adalah kata berimbhan yang berada di
awal kalimat
b.
Sufiks: adalah kata berimbuhan yang terletak di
akhir kalimat
c.
Infiks: aalah imbuhan yang terletak di tengah
kata. Atau bisa disebut kata sisipan.
d.
Konfiks: adalah gabungan dari prefix dan sufiks
atau bisa disebut kata berimbuhan yang terletak pada awal dan akhir kata
e.
Simulfiks: adalah gabungan dari beberapa imbuhan
. atau bisa disebut kata yang terdiri dari dua imbuhan atau lebih.
Minggu, 26 Maret 2017
KONGRES BAHASA
Kongres Bahasa Indonesia I
·
Tanggal 25-28 Juni 1938
dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat
disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah
dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Tanggal
18 Agustus 1945, dilakukan pendatangan Undang-Undang Dasar 1945, yang salah
satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan
Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku
sebelumnya.
Kongres Bahasa Indonesia II
·
Tanggal 28 Oktober hingga 2 November
1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini
merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan
bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai
bahasa negara.
·
Tanggal 16 Agustus 1972 H. M.
Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan
sidang DPR yang
dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
·
Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum
Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan
Nusantara).
Kongres Bahasa Indonesia III
·
Tanggal 28 Oktober hingga 2 November
1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta.
Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini
selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia
sejak tahun 1928, juga berusaha memantabkan kedudukan dan fungsi bahasa
Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia IV
·
Tanggal 21-26 November 1983
diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini
diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam
putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus
lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara,
yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
Kongres Bahasa Indonesia V
Tanggal 28 Oktober hingga 3 November
1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini
dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh
Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei
Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman,
dan Australia.
Kongres itu ditandatangani dengan mempersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara,
yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia VI
·
Tanggal 28 Oktober hingga 2 November
1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Diikuti oleh
peserta sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari
mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan,
dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa
Indonesia, serta mengusulkan penyusunan Undang-Undang Bahasa Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia VII
·
Tanggal 26-30 Oktober 1998
diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel
Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan pembentukan Badan Pertimbangan Bahasa.
Kongres Bahasa Indonesia VIII
Pada
bulan Oktober tahun 2003, para pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan
menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia ke- VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda
yang dicetuskan pada bulan Oktober tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda
memiliki satu bahasa yakni Bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun
dijadikan bulan bahasa. Pada setiap bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa
Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan
bahasa tahun ini mencakup juga Kongres Bahasa Indonesia.
Kongres Bahasa Indonesia IX
Dalam
rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan
60 tahun berdirinya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun
Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan
kebahasaan dan kesusasteraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan
dan kesusasteraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan Kongres IX
Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta.
Kongres
tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah,
penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media
massa. Kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para
pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama
ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar
negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam
kongres tahun ini.
DAFTAR PUSTAKA
wikipedia.org/wiki/Kongres_Bahasa_Indonesia
Sabtu, 25 Maret 2017
FONOLOGI
a.
Fonologi dan bidang pembahasannya
Bahwa bahasa adalah sistem bunyi ujar sudah di sadari
para linguistik. Oleh karena itu, objek utama kajian linguistik adalah bahasa
lisan, yaitu bahasa dalam bentuk bunyi ujar. Kalau toh dalam praktik berbahasa
dijumpai ragam bahasa tulis, dianggap sebagai bahasa sekunder, yaitu “rekaman”
dari bahasa lisan. Oleh karena itu, bahasa tulis bukan menjadi sasaran utama
kajian linguistik.
Konsenkuensi logis dari anggapan-bahkan keyakinan-ini
adalah dasar analisis cabang-cabang linguistik apa pun (fonologi, morfologi,
sintaksis, semantik, leksikologi, dan lainnya) berkiblat pada korpus data yang
bersumber dari bahasa lisan, walaupun yang dikaji sesuai dengan konsentrasinya
masing-masing. Misalnya, fonologi berkonsentrasi pada persoalan bunyi,
morfologi pada persoalan struktur internal kata, sintaksis pada persoalan
susanan kata dalam kalimat, semantik pada persoalan makna kata, dan leksikologi
pada persoalan perbendaharaan kata.
Dari sini dapat dipahami bahwa material bahasa adalah
bunyi-bunyi ujar. Kajian mendalam tentang bunyi-bunyi ujar ini diselidiki oleh
cabang linguistik yang disebut fonologi. Oleh fonologi, bunyi-bunyi ujar ini
dapat dipelajari dengan dua sudut pandang.
Pertama, bunyi-bunyi ujar dipandang sebagai media bahasa semata,
tak ubahnya seperti benda atau zat. Dengan demikian, bunyi-bunyi dianggap
sebagai bahan mentah, bagaikan batu, pasir, semen sebagai bahan mentah bangunan
rumah. Fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujar demikian lazim disebut fonetik.
Kedua, bunyi-bunyi ujar dipandang sebaagai dari sistem bahasa.
Bunyi-bunyi ujar merupakan unsur-unsur bahasa terkecil yang merupakan bagian
struktur kata dan yang sekaligus berfungsi untuk membedakan makna. Fonologi
yang memandang bunyi-bunyi ujar itu sebagai bagian dari sistem bahasa lazim
disebut fonemik.
Dari dua sudut pandang tentang bunyi ujar tersebut dapat
disimpulkan bahwa fonologi mempunyai dua cabang kajian, yaitu (1) fonetik, dan
(2) fonemik. Secara lebih rinci, kedua cabang kajian fonologi ini diuraikan
pada bab-bab berikutnya.
- Manfaat fonologi dalam penyusunan ejaan bahasa
Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan
bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar ada dua unsur, yaitu segmental dan
suprasegmental, maka ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur
bunyi ujar tersebut.
Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya
bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi
juga bagaimana bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga
bagaimana menuliskan bunyi-bunyi dalam bentuk kata, frase, klausa, dan kalimat,
bagaimana memenggal suku kata, bagaimana menuliskan singkatan, nama orang,
lambang-lambang teknis keilmuan, dan sebagainya. Perlambangan unsur
suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau oungtuasi.
Tata cara penulisan bunyi ujar ( baik segmental maupun
suprasegmental ) ini bisa memanfaatkan hasil kajian fonologi, terutama hasil
kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Sebagai contoh, ejaan bahsa
indonesia yang selama ini telah diterapkan dakam penulisan memanfaatkan hasil
studi fonologi bahasa indonesia, terutama yang berkaitan dengan pelambangan
fonem. Oleh karena itu, ejaan bahasa indonesia dikenal dengan istilah ejaan
fonemis.
Terkait dengan pemberlakuan ejaan bahsa indonesia, ada
usulan dari beberapa kalangan yang menarik untuk diperhatikan, yaitu “ucapan
bahas indonesia hendaknya disesuaikan dengan ejaan bahasa indonesia”. Dilihat
dari pengkajian fonetik, usulan itu sangat lemah dan tidak berdasar karena
selain menyalahi kodrat bahasa juga bertentangan dengan kealamiahan bahasa.
Mengapa demikian ?
Kita tahu bahwa ejaan tumbuh beratus-ratus tahun bahkan
beribu-ribu tahun setelah bahasa lisan ada. Bahasa lisan tumbuh dan berkembang
dengan sendirinya tanpa ejaan. Ejaan diciptakan untuk melambkangkan bunyi-bunyi
bahsa, bukan sebaliknya, jadi, tidaklah ada alasan kuat bahwa bahsa ( bahasa
lisan, pen ) harus mengikuti dan tunduk pada ejaan (bahasa tulis, pen).
Bahasa mana pun selalu berubah, termaksud bahasa
indonesia. Satu sistem ejaan sesuai dengan bahasa yang dilambangkan pada waktu
ejaan itu diciptakan. Oleh karena itu, ejaanlah yang harus disesuaikan terus
menerus seiring dengan perkembangan atau perubahan bunyi pada bahasa yang
dilambangkan, bukan sebaliknya.
- Fonetik dan Fonemik
Fonetik adalah ilmu yang
mempelajari produksi bunyi bahasa. Ilmu ini berangkat dari teori fisika dasar
yang mendeskripsikan bahwa bunyi pada hakikatnya adalah gejala yang timbul
akibat adanya benda yang bergetar dan menggetarkan udara di sekelilingnya. Oleh
karena bunyi bahasa juga merupakan bunyi, bunyi bahasa tentunya diciptakan dari
adanya getaran suatu benda yang menyebabkan udara ikut bergetar. Perbedaan
antara bunyi bahasa dengan bunyi lainnya menurut fonetik adalah bunyi bahasa
tercipta atas getaran alat-alat ucap manusia sedangkan bunyi biasa tercipta
dari getaran benda-benda selain alat ucap manusia. Namun demikian, pada
dasarnya deskripsi bunyi bahasa fonetik ini masih kurang lengkap sehingga akan
dilengkapi oleh deskripsi bunyi bahasa menurut fonemik.
Dalam fonetik, bunyi bahasa
dianggap setara dengan bunyi, yaitu sebuah gejala fisika yang dapat diamati
proses produksinya. Fonetik memang berorientasi dalam deskripsi produksi bunyi
bahasa serta cara-cara yang dapat mengubah bunyi bahasa itu dalam produksinya.
Oleh karena itu, fonetik bertugas mendeskripsikan bunyi-bunyi bahasa yang
terdapat di dalam suatu bahasa. Salah satu contoh konkretnya adalah
identifikasi bunyi-bunyi kontoid dan vokoid dalam suatu bahasa.
Fonemik sendiri adalah ilmu
yang mempelajari fungsi bunyi bahasa sebagai pembeda makna. Pada dasarnya,
setiap kata atau kalimat yang diucapkan manusia itu berupa runtutan bunyi
bahasa. Pengubahan suatu bunyi dalam deretan itu dapat mengakibatkan perubahan
makna.
- Fonetik dan bidang kajiannya
1.
Jenis-jenis Fonetik
Berdasarkan
dimana beradanya bunyi bahasa itu sewaktu dikaji, dibedakan adanya tiga macam
fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.
Sewaktu bunyi itu bedara dalam proses produksi di dalam mulut penutur, dia
menjadi objek kajian fonetik artikulatoris atau fonetik organis. Suatu bunyi
bahasa itu berada atau sedang merambat di udara menuju telinga pendengar, dia
menjadi objek kajian fonetik akustik. Lalu, sewaktu bunyi bahasa itu sampai
atau berada di telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik auditoris.
a.
Fonetik artikulatoris disebut juga
fonetik organis atau fonetik fisiologis meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa
itu diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Pembahasannya, antara lain meliputi
masalah alat-alat ucap yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa itu;
mekanisme arus udara yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa; bagaimana
bunyi bahasa itu dibuat; mengenai klasifikasi bunyi bahasa yang dihasilkan
serta apa kreteria yang digunakan; mengenai silabel; dan juga mengenai
unsur-unsur atau ciri-ciri suprasegmental, seperti tekanan, jeda, durasi, dan
nada.
b.
Fonetik akustik, yang objeknya adalah
bunyi bahasa ketika merambat di udara, antara lain membicarakan: gelombang
bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat di udara, spektrum, tekanan,
dan intensitas bunyi. Juga mengenai skala desibel, resonansi, akustik produksi
bunyi, serta pengukuran akustik itu. Kajian fonetik akustik lebih mengarah
kepada kajian fisika daripada kajian linguistik, meskipun linguistik memiliki
kepentingan di dalamnya.
c.
Fonetik
auditoris meneliti bagaimaman bunyi-bunyi bahasa itu diterima oleh telinga,
sehingga bunyi-bunyi itu di dengar dan dapat di pahami. Dalam hal ini tentunya
pembahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu
bekerja. Bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa di
pahami. Oleh karena itu, kiranya kajian fonetik auditoris lebih berkenaan
dengan ilmu kedokteran, termasuk kajian neurologi.
Dari ketiga jenis fonetik itu jelas
yang paling berkaitan dengan ilmu linguistik adalah fonetik artikulatoris,
karena fonetik ini sangat berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi bahasa itu
di produksi atau di hasilkan. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan
kajian fisika, yang dilakukan setelah bunyi-bunyi itu dihasilkan dan sedang
merambat di udara. Kajian mengenai frekuensi dan kecepatan gelombang bunyi
adalah kajian bidang fisika bukan bidang linguistik. Begitupun kajian
linguistik auditoris lebih berkaitan dengan ilmu kedokteran daripada
linguistik. Kajian mengenai struktur dan fungsi telinga jelas merupakan bidang
kedokteran.
- Proses
pembentukan bunyi
Pada
dasarnya bunyi bahasa adalah getaran atas benda apa saja karena adanya energi
yang bekerja. Getaran bunyi ini cukup kuat dan dihantarkan ke alat dengar oleh
udara sekitar. Sarana utama yang berperan dalam proses pembentukan bunyi bahasa
adalah (1) arus udara, (2) pita suara, dan (3) alat ucap, ketiga sana ini juga
yang oleh fonetisi di pakai sebagai dasar pengklasifikasian bunyi.
1.
Arus udara
Arus
udara yang menjadi sumber energi utama pembentukan bunyi bahsa merupakan hasil
kerja alat atau organ tubuh yang di kendalikan oleh otot-otot tertentu atas
perintah saraf-saraf otak. Dengan demikian, arus udara ini tidak muncul dengan
sendirinya, tetapi di ciptakan atas printah saraf-saraf otak tertentu;apakah
arus udara menuju keluar dari paru-paru (arus udara agresif), atau arus udara
ke dalam atau menuju paru-paru (arus udara ingresif)
2.
Pita suara
Pita
suara merupakan sumber bunyi. Ia bergetar atau digetarkan oleh udara yang
keluar atau masuk ke paru-paru. Pita suara terletak dalam kerongkongan dalam
posisi mendapar dari muka ke belakang
3.
Alat Ucap
Alat-alat
yang digunakan untuk menghasilkan bunyi-bunyi bahasa ini mempunyai fungsi utama
lain yang bersifat fisiologis. Misalnya, parau-paru untuk bernafas, lidah untuk
mengecap dan gigi untuk mengunyah. Ketika berbicara, organ-organ tubuh yang disebut sebagai alat
ucap itu bekerja seperti pada proses ketika melakukan fungsi utamanya
masing-masing. Jadi, tidak ada perbedaan oprasional yang berarti. Hanya soal
pengaturan saja sehingga bisa difungsikan sebagai alat pembentukan bunyi.
Nama
alat-alat ucap atau alat-alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah
sebagai berikut (dimulai dari dalam).
a.
Paru-paru (lung)
b.
Batang tenggorok (trachea)
c.
Pangkal tenggorok (laring)
d.
Pita suara (vocal cord) yang di dalamnya
terdapat glottis, yaitu celah di
antara dua bilah pita suara.
e.
Krikoid (cricoid)
f.
Lekum atau tiroid (thyroid)
g.
Aritenoid (arythenoid)
h.
Dinding rongga kerongkongan (wall of
pharynx)
i.
Epiglotis (epiglotis)
j.
Akar lidah ( root of the tongue)
k.
Pangkal lidah atau sering disatukan
dengan daun lidah. Pangkal lidah (back of the tongue,dorsum)
l.
Tengah lidah ( middle of the tongue,
medium )
m.
Daun lidah ( blade of the tongue,
laminum)
n.
Ujung lidah ( tip of the tongue, apex)
o.
Anak tekak ( uvula)
p.
Langit-langit lunak ( soft palate,
velum)
q.
Langit-langit keras ( hard
palate,palatum)
r.
Gusi, ceruk gigi ( alveolum)
s.
Gigi atas ( upper teeth, dentum)
t.
Gigi bawah ( lower teeth, dentum)
u.
Bibir atas ( upper lip, labium)
v.
Bibir bawah ( lower lip, labium)
w.
Mulut ( mouth)
x.
Rongga mulut ( oral cavity )
y.
Rongga hidung ( nasal activity)
Nama-nama
Latin alat ucap itu perlu diperhatikan karena nama-nama bunyi disebut juga
dengan nama Latinnya itu. Misalnya, bunyi yang dihasilkan di bibir disebut
bunyi labial, di ambil dari kata labium yaitu bibir, dan bunyi yang dihasilkan
oleh ujung lidah dan gigi disebut bunyi apikondental, yang diambil dari kata
apeks yaitu ujung lidah dan kata dentum itu gigi.
Alat
ucap atau alat bicara yang dibicarakan dalam proses memproduksi bunyi bahasa
dapat dibagi atas tiga komponen, yaitu:
a.
Komponen supraglotal
Komponen supraglotal ini
terdiri dari tiga rongga yang berfungsi sebagai lubang resonansi dalam
pembentukan bunyi, yaitu (1) rongga kerongkongan (faring), (2)ronnga hidung,
dan (3)rongga mulut.
Rongga
kerongkongan yang terletak diatas laring ini merupakan tabung dan di bagian
atasnya bercabang dua, yaitu yang berwujud rongga mulut dan rongga hidung.
Peranan rongga kerongkongan ini hanyalah sebagai tabung udara yang akan turut
bergetar apabila pita suara (yang terletak di laring) menimbulkan getaran pada
arus udara yang lewat dari paru-paru. Volume rongga kerongkongan ini dapat
diperkecil dengan menaikan laring, dengan mengankat ujung langit-langit lunak
sehingga hubungan dengan rongga hidung tertutup, dan dengan menarik belakang
lidah ke arah dinding faring.
Rongga hidung mempunyai bentuk dan dimensi yang relatif
tetap dan tetapi dalam kaitannya dengan pembentukan bunyi mempunyai fungsi
sebagai tabung resonansi. Peran ini terjadi ketika arus udara
b.
Komponen subglotal
Komponen
subglotal terdiri dari paru-paru ( kiri dan kanan), saluran bronkial, dan
saluran pernafasan ( trakea). Disamping ketiga alat ucap ini masih ada yang
lain, yaitu otot-otot paru-paru , dan rongga dada. Secara fisiologis komponen
ini digunakan untuk proses pernafasan, karena itu, komponen ini disebut juga
sistem pernafasan. Lalu dalam hubungan nya dengan fonetik disebut sistem
pernafasan subglotis. Fungsi utama komponen subglotal ini adalah “memberi” arus
udara yang merupakan syarat mutlak untuk terjadinya bunyi bahasa.
c.
Komponen laring
Komponen
laring(tenggorok) merupakan kotak yang terbentuk dari tulang rawan yang
berbentuk lingkaran, didalamnya terdapat pita suara. Laring berfungsi sebagai
klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, hidung. Pita suara
dengan kelenturanya bisa membuka dan menutup, sehingga bisa memisahkan dan
sekaligus menghubungkan antara udara yang ada diparu-paru dan yang ada dimulut
atau rongga hidung. Bila klep dibuka lebar-lebar udara yang ada pada paru-paru
bisa berhubungan dengan yang ada di rongga mulut atau rongga hidung. Bila klep
ditutup rapat, maka udara yang ada di paru-paru terpisah dengan yang ada di
rongga mulut.
Kinerja
pita suara dilaringlah yang mengakibatkan penggolongan bunyi bahasa menjadi bunyi bersuara (hidup) dan bunyi tidak bersuara
(mati). Perbedaan pokok antara bunyi bersuara dan bunyi tidak bersuara terletak
pada ada tidaknya gerakan buka-tutup pita suara ketika adanya pembentukan
bunyi. Suatu bunyi dikatakan bunyi bersuara (hidup) apabila pita suara
melakukan gerakan membuka dan menutup secara cepat ketika mendapaatkan tekanan
arus udara dari paru-paru. Sebaliknya, suatu bunyi dikatakan bunyi tidak bersuara
(mati) apabia pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup. Tidak
adanya gerakan membuka dan menutup pita suara ini disebabkan oleh (1) arus
udara lewat tanpa hambatan yang berarti di antara kedua pita suara, atau (2)
arus udara tidak dapat lewat sama sekali karena pita suara menutup rapat.
Kedua pita suara dalam laring terbuka akan terjadi celan
yang membentuk V. Celah diantara kedua pita suara inilah yang di sebut glotis.
Dengan demikian, glotis ini bisa tertutup dan bisa terbuka. Glotis terbuka
digunakan untuk pembentukan bunyi-bunyi tidak bersuara, sedangkan glotis
tertutup digunakan untuk membentuk bunyi-bunyi yang bersuara.
Penutupan rapat pita suara dengan demikian glotis juga
tertutup dilakukan untuk pembentukan bunyi glotal [?] atau bunyi hamzah.
Sementara itu, apabila pita suara terbuka sempit dengan demikian glotis juga
terbuka sedikit digunnakan untuk membentuk bunyi frikatik-glotal [h].
Sebaliknya, kalau pita suara terbuka lebar dengan demikian glotis juga terbuka
penuh biasanya terjadi saat menarik napas dalam-dalam.
Dalam
rangka proses produksi bunyi, pada laring inilah terjadinya awal mula bunyi
bahasa itu; baik dengan aliran udara egresif maupun aliran aliran udara
ingresif. Posisi glottis ( celah di antara pita suara) menentukan bunyi yang
diproduksi apakah bunyi bersuara, bunyi tak bersuara, atau bunyi glottal.
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul.2013.Fonologi Bahasa Indonesia.Jakarta:Bhinneka
Cipta
Langganan:
Postingan (Atom)
