Minggu, 04 Juni 2017

PUISI

                                                               
                                                                      BUNGA KECIL
Belum terlihat keindahanmu....
semua seolah mengabaikanmu
seolah-olah tak terlihat
jangan bersedih bunga kecil

saat muali tumbuh besar....
keindahanmu mulai terlihat
dan semua mulai tertarik
mula berbahagialah bunga kecil

saat mekar....
keindahanmu terlihat jelas
semua mengagumi keindahanmu
an ingin menjadi sepertimu
mekar dan indah
tetap brbahagialah bunga kecil


by:vebydonari

Minggu, 21 Mei 2017

Semantik

A.Pengertian Semantik

Berikut ini adalah beberapa pengertian semantic:
1.pengertian semantik
Semantik (dari Bahasa Yunanisemantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sematanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasakode, atau jenis representasi lain. Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain:sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.
Semantik Linguistik adalah studi tentang makna yang digunakan untuk memahami ekspresi manusia melalui bahasa. Bentuk lain dari semantik mencakup semantik bahasa pemrograman, logika formal, dan semiotika.
2. semantic dalam ilmu komputer
Dalam ilmu komputer, semantik merujuk pada arti bahasa, sebagai lawan dari bentuk mereka (sintaks). Menurut Euzenat, semantik "menyediakan aturan untuk menafsirkan sintaks yang tidak memberikan makna secara langsung tetapi membatasi kemungkinan penafsiran dari apa yang dinyatakan." Dengan kata lain, semantik adalah tentang penafsiran dari sebuah ekspresi. Selain itu, istilah ini diterapkan untuk beberapa jenis struktur data khusus dirancang dan digunakan untuk mewakili konten informasi.
            3. semantic dalam bahasa pemprograman
Semantik dari bahasa pemrograman dan bahasa lainnya merupakan isu penting dan bidang studi dalam ilmu komputer. Seperti sintaks bahasa, semantik dapat didefinisikan dengan tepat.
            4.semantic Dalam Linguistik
   Dalam linguistik, semantik adalah sub-bidang dikhususkan untuk mempelajari makna, seperti yang melekat di tingkat kata, frasa, kalimat, dan unit yang lebih besar dari wacana (teks disebut). Daerah basis penelitianadalah makna dari tanda-tanda, dan studi tentang hubungan antara unit linguistik yang berbeda dan senyawa.



B. Unsur-unsur semantik

   Semantik berhubungan dengan tanda-tanda, sintaksis berhubungan dengan gabungan tanda-tanda (susunan tanda-tanda) sedangkan pragmatik berhubungan dengan asal-usul, pemakaian dan akibat pemakaian tanda-taqnda di dalam tingkah laku berbahasa. Penggolongan tanda dapat dilakukan denagn cara:

1.    Tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena pengalaman, misalnya:

   a.    Hari mendung tanda akan hujan.

   b.    Hujan terus-menerus dapat menimbulkan banjir.

   c.    Banjir dapat menimbulkan wabah penyakit dan kelaparan.

2.    Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, diketahui manusia dari suara binatang tersebut, misalnya:

   a.    Anjing menggonggong tanda ada orang masuk halaman.

   b.    Kucing bertengkar (mengeong) dengan ramai suaranya tanda ada wabah penyakit atau keribytan (bagi masyarakat bangsa Indonesia yang ada di Jawa Barat), dst.

3.    Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, tanda ini dibedakan atas:

   a.    Yang bersifat verbal, adalah tanda yang dihasilkan menusia melalui alat-alat bicara.

   b.    Yang bersifat non-verbal, dibedakan menjadi 2, yaitu:

   1)     tanda yang dihasilkan anggota badan, dikenal sebagai bahasa isyarat,     misalnya   acungan jempol bermakan hebat, bagus.

   2)   tanda yang dihasilkan melalui bunyi (suara), misalnya bersiul bermakna gembira, memanggil, ingin kenal, dsb.


C.  Jenis – Jenis Makna

1.    Makna Leksikal: makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, makna apa adanya, makna yang ada di dalam kamus.

Misalnya, kuda bermakna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.

2.    Makna Gramatikal: makna gramatikal terjadi apabila terdapat proses afiksasi, reduplikasi, komposisi dan kalimatisasi.

Misalnya, berkuda, kata dasar kuda berawalan ber- yang bermakna mengendarai kuda.

3.    Makna Kontekstual: makna sebuah kata yang berada di dalam suatu konteks. Misalnya:

   a.   Rambut di kepala nenek belum ada yang putih (bermakna kepala)

   b.   Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan konteks situasinya, yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu, misalnya: tiga kali empat berapa? Pertanyaan tersebut apabila dilontarkan kepada anka SD jawabannya adalah dua belas, tetapi apabila dilontarkan kepada tukang cetak foto jawabanya adalah dua ratus atau tiga ratus, karena pertanyaan tesebut mengacu pada biaya pembuatan pas photo yang berukuran tiga kali empat centimeter.

4.    Makna referansial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Misalnya :

   1)    orang itu menampar orang

   2)    orang itu menampar dirinya

Pada (1) orang1 dibedakan maknanya dari orang2 karena orang1 sebagai pelaku dan orang2 sebagai pengalam, sedangkan pada (2) orang memiliki makna referensial yang sama dengan  orang1 dan orang2 karena mengacu kepada konsep yang sama.

5.    Makna kognitif disebut juga makna denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya, antara lain itu, ini, ke sana, ke sini.

Misalnya orang itu mata duitan.

6.    Makna konotatif adalah makna yang bersifat negatif, misalnya berbunga-bunga sampai tidak tahu sedangkan makna sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif, misalnya dia adalah bunga di kampung itu.

7.    Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari sebuah konteks atau asosiasi apa pun, misalnya kata kuda memiliki makna konseptula sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.

Misalnya Kuda memiliki konseptual sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai.

8.    Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.

 misalnya kata melati berasosiasi dengan suci atau kesucian, kata merah berasosiasi dengan berani.

9.    Makna idiom adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna berlainan.

misalnya meja hijau bermakna pengadilan, membanting tulang bermakna bekerja keras.

10.    Makna pribahasa adalah makna yang hampir mirip dengan makna idiom, akan tetapi terdapat perbedaan, makna pribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai pribahasa, sedangkan makna idiom tidak dapat diramalka



D. Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis

   Dalam kajian linguistik, kita mengenal apa yang disebut dengan fonologi , morfologi , dan sintaksis . Fonologi merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang bertugas mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan dan mengidentifikasi kata-kata tertentu . Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari pembentukan kata . Sementara itu, sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda bahasa , yakni hubungan antara kata/frasa yang satu dengan lainnya dalam suatu kalimat. Semantik sebagai cabang ilmu bahasa memiliki hubungan yang erat dengan ketiga cabang ilmu bahasa di atas (fonologi, morfologi, dan sintaksis). Ini berarti, bahwa makna suatu kata atau kalimat ditentukan oleh unsur bunyi (tekanan suara dan atau nada suara atau yang lebih umum adalah suprasegmental), bentukan kata (perubahan bentuk kata), maupun susunan kata dalam kalimat.

satra permainan tradisional



 Permainan Tradisional Abc Lima Dasar di Indonesia





permainan tradisional Indonesia abc lima dasar
Masih ingatkah kamu dengan permainan yang satu ini? Nama permainan ini diambil karena kamu bermaian abc an dengan mengunakan ke lima jari. Permainan ini mengharuskan kamu berfikir dengan cepat. Memainkan permainan tradisional yang satu ini tidak menggunakan alat apapun hanya menggunakan jemari kita sebagai perhitungannya.

permainan ini dimainkan oleh tiga sampai lima orang, semakin banyak semakin seru. Cara bermainnya mudah, kamu dan teman-temanmu menyepakati nama-nama yang nantinya akan menjadi tema, misalkan nama-nama hewan, nama-nama pemain bola atau nama-nama negara. Nama-nama tersebut akan menjadi tema permainan tradisional abc lima dasar.

Setelah itu kumpulkan jari-jari temanmu dan mulai berhitung dengan huruf alfabet. Contoh, semua jari yang keluar dari teman-teman ada 10 huruf alfabet kesepuluh adalah “H” nah huruf ini akan menjadi huruf nama-nama hewan yang berawalan huruf “H”.

Pemain yang menjawab paling akhir atau tidak bisa menjawab akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati diawal permainan. Manfaat permainan ini adalah mempercepat kinerja berfikir otak.

Sumber : http://azzamaviero.com/


Contoh Morfologi Dalam Cerpen

CONTOH MORFOLOGI DALAM CERPEN

Ari adalah seorang juru masak yang sangat terkenal dan patut diperhitungkan didesanya, yaitu desa suka maju . Tanpa kehadiran  Ari, maka sebuah perhelatan kenduri tidak akan meriah dan memuaskan tamu undangan. walaupun demikian, Ari tidak pernah pandang bulu dalam melayani pesanan masyarakat desa suka maju.

Ketika usia Ari senja, anak Ari yakni Azrial mengajaknya untuk tinggal bersama di Jakarta. Akan tetapi, Ari bimbang memikirkannya karena hanya terdapat satu juru masak didesanya. Sehingga Ari meminta pada Azrial untuk diberikan satu kesempatan lagi untuk memasak pada kenduri milik anak Mangkudun.

Proses Morfologi

kalimat 1
moefem : 22
moefem bebas : 16 (Ari ,adalah, orang, juru, masak, yang, sangat, kenal, dan, patut, perhitung ,desanya, yaitu, desa ,suka, maju)
morfem terikat : (di,ter,se,per,an)


kalimat 2
morfem : 21
morfem bebas : 14 (Tanpa,hadir,Ari,maka,sebuah,helat,kenduri,tidak,akan,meriah,dan,muas,tamu,undangan)
morfem terikat : 5 (ke,per,an,me,kan)

kalimat 3
morfem : 18
morfem bebas : 14  ( walaupun, demikian, Ari, tidak ,pernah ,pandang, bulu ,dalam, layan, pesan, masyarakat, desa, suka, maju.)
morfem teikat :4 (me,I,an,di)

kalimat 4
morfem :15
morfem bebas: 12 (Ketika,usia,Ari, senja, anak, yakni, Azrial, ngajaknya, untuk, tinggal,sama,jakarta.)
morfem terikat : 3 ( ber, me, di )

kalimat 5
morfem : 16
morfem bebas : 12 ( Akan, tetapi, Ari, bimbang ,mikirnya ,karena, hanya,dapat ,satu, juru, masak, didesanya)
morfem terikat : 4( me,kan,ter,di)

kalimat 6:
morfem :24
morfem bebas : 16 (hingga ,Ari, minta, pada ,Azrial, untuk, beri, satu ,sempat, lagi, untuk ,pada ,kenduri ,milik, anak ,Mangkudun.)
morfem terikat :6 ( se,me,di,kan,ke,an)





















HUBUNGAN TEORI ,KRITIK,DAN SEJARAH SASTRA

Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah Sastra.

Berikut adalah pembahasanya:
Sejarah Sastra ada baiknya bila kita mengetahui apa itu pengertian dari teori sastra,kritik sastra,dan sejarah sastra. Berikut ada lah pengertiannya:

Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati.

Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra

Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra.

Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.
Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu.
Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.


Kamis, 18 Mei 2017

MORFOLOGI

                                                   MORFOLOGI
Morfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk kata
Morfologi terbagi menjadi 2 yaitu:
a.       Morfem bebas: adalah morfem yang bisa berdiri sendiri ( kata dasar)
b.      Morfem terikat: adalah morfem yang tidak bisa berdiri sendri
Hasil  dari morfen terikat adalah
1)      Kata berimbuhan
2)      Pemajemukan kata
3)      Pengulangan kata

Bentuk-bentuk kata
Berikut ini adalah bentuk-bentuk kata:
a.       Kata dasar
Adalah kata yang belum berimhan atau tidak berimbuhan
Contoh: sepeda,makan,masak,tidur dsb
b.      Kata imbuhan
Bisa disebut kata turunan yaitu kata-kata yang telah berubah bentuk dan makna
Contoh: berlari,tertidur,bermain,dsb
c.       Kata ulang adalah bentuk kata yang merupakan pengulangan.
Contoh: ibu-ibu,rumah-rumah,adik-adik.dsb.
d.      Kata majemuk
Adalah kata terdiri dari dua atau lebih yang berhubungan seara padu dan merubah bentuk arti atau makna.

Proses morfologi
Proses morfologi terbagi menjadi 3 yaitu:
1.       Proses afiksasi
Proses afikasi adalah proses mengimbuhkan kata.dalam kata lain afiksasi adalah imbuhan
Berikut ini adalah proses afiksasi
a.       Prefix: adalah kata berimbhan yang berada di awal kalimat
b.      Sufiks: adalah kata berimbuhan yang terletak di akhir kalimat
c.       Infiks: aalah imbuhan yang terletak di tengah kata. Atau bisa disebut kata sisipan.
d.      Konfiks: adalah gabungan dari prefix dan sufiks atau bisa disebut kata berimbuhan yang terletak pada awal dan akhir kata

e.      Simulfiks: adalah gabungan dari beberapa imbuhan . atau bisa disebut kata yang terdiri dari dua imbuhan atau lebih.

Minggu, 26 Maret 2017

KONGRES BAHASA

Kongres Bahasa Indonesia I
·         Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Tanggal 18 Agustus 1945, dilakukan pendatangan Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.

Kongres Bahasa Indonesia II
·         Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
·         Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
·         Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).

Kongres Bahasa Indonesia III
·         Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantabkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia IV
·         Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.

Kongres Bahasa Indonesia V
Tanggal 28 Oktober hingga 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei DarussalamMalaysiaSingapuraBelandaJerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan mempersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia VI
·         Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Diikuti oleh peserta sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, HongkongIndiaItaliaJepangRusiaSingapuraKorea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan penyusunan Undang-Undang Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia VII
·         Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan pembentukan Badan Pertimbangan Bahasa.

Kongres Bahasa Indonesia VIII
Pada bulan Oktober tahun 2003, para pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia ke- VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada bulan Oktober tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni Bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun dijadikan bulan bahasa. Pada setiap bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan bahasa tahun ini mencakup juga Kongres Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia IX
Dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesusasteraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan kesusasteraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan Kongres IX Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta.
Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres tahun ini.



DAFTAR PUSTAKA

wikipedia.org/wiki/Kongres_Bahasa_Indonesia

Sabtu, 25 Maret 2017

FONOLOGI

a.       Fonologi dan bidang pembahasannya
Bahwa bahasa adalah sistem bunyi ujar sudah di sadari para linguistik. Oleh karena itu, objek utama kajian linguistik adalah bahasa lisan, yaitu bahasa dalam bentuk bunyi ujar. Kalau toh dalam praktik berbahasa dijumpai ragam bahasa tulis, dianggap sebagai bahasa sekunder, yaitu “rekaman” dari bahasa lisan. Oleh karena itu, bahasa tulis bukan menjadi sasaran utama kajian linguistik.
Konsenkuensi logis dari anggapan-bahkan keyakinan-ini adalah dasar analisis cabang-cabang linguistik apa pun (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, dan lainnya) berkiblat pada korpus data yang bersumber dari bahasa lisan, walaupun yang dikaji sesuai dengan konsentrasinya masing-masing. Misalnya, fonologi berkonsentrasi pada persoalan bunyi, morfologi pada persoalan struktur internal kata, sintaksis pada persoalan susanan kata dalam kalimat, semantik pada persoalan makna kata, dan leksikologi pada persoalan perbendaharaan kata.
Dari sini dapat dipahami bahwa material bahasa adalah bunyi-bunyi ujar. Kajian mendalam tentang bunyi-bunyi ujar ini diselidiki oleh cabang linguistik yang disebut fonologi. Oleh fonologi, bunyi-bunyi ujar ini dapat dipelajari dengan dua sudut pandang.
Pertama, bunyi-bunyi ujar dipandang sebagai media bahasa semata, tak ubahnya seperti benda atau zat. Dengan demikian, bunyi-bunyi dianggap sebagai bahan mentah, bagaikan batu, pasir, semen sebagai bahan mentah bangunan rumah. Fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujar demikian lazim disebut fonetik.
Kedua, bunyi-bunyi ujar dipandang sebaagai dari sistem bahasa. Bunyi-bunyi ujar merupakan unsur-unsur bahasa terkecil yang merupakan bagian struktur kata dan yang sekaligus berfungsi untuk membedakan makna. Fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujar itu sebagai bagian dari sistem bahasa lazim disebut fonemik.
Dari dua sudut pandang tentang bunyi ujar tersebut dapat disimpulkan bahwa fonologi mempunyai dua cabang kajian, yaitu (1) fonetik, dan (2) fonemik. Secara lebih rinci, kedua cabang kajian fonologi ini diuraikan pada bab-bab berikutnya.


  1. Manfaat fonologi dalam penyusunan ejaan bahasa

Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar ada dua unsur, yaitu segmental dan suprasegmental, maka ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi ujar tersebut.
Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi dalam bentuk kata, frase, klausa, dan kalimat, bagaimana memenggal suku kata, bagaimana menuliskan singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan, dan sebagainya. Perlambangan unsur suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau oungtuasi.
Tata cara penulisan bunyi ujar ( baik segmental maupun suprasegmental ) ini bisa memanfaatkan hasil kajian fonologi, terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Sebagai contoh, ejaan bahsa indonesia yang selama ini telah diterapkan dakam penulisan memanfaatkan hasil studi fonologi bahasa indonesia, terutama yang berkaitan dengan pelambangan fonem. Oleh karena itu, ejaan bahasa indonesia dikenal dengan istilah ejaan fonemis.
Terkait dengan pemberlakuan ejaan bahsa indonesia, ada usulan dari beberapa kalangan yang menarik untuk diperhatikan, yaitu “ucapan bahas indonesia hendaknya disesuaikan dengan ejaan bahasa indonesia”. Dilihat dari pengkajian fonetik, usulan itu sangat lemah dan tidak berdasar karena selain menyalahi kodrat bahasa juga bertentangan dengan kealamiahan bahasa. Mengapa demikian ?
Kita tahu bahwa ejaan tumbuh beratus-ratus tahun bahkan beribu-ribu tahun setelah bahasa lisan ada. Bahasa lisan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa ejaan. Ejaan diciptakan untuk melambkangkan bunyi-bunyi bahsa, bukan sebaliknya, jadi, tidaklah ada alasan kuat bahwa bahsa ( bahasa lisan, pen ) harus mengikuti dan tunduk pada ejaan (bahasa tulis, pen).
Bahasa mana pun selalu berubah, termaksud bahasa indonesia. Satu sistem ejaan sesuai dengan bahasa yang dilambangkan pada waktu ejaan itu diciptakan. Oleh karena itu, ejaanlah yang harus disesuaikan terus menerus seiring dengan perkembangan atau perubahan bunyi pada bahasa yang dilambangkan, bukan sebaliknya.
  1. Fonetik dan Fonemik
Fonetik adalah ilmu yang mempelajari produksi bunyi bahasa. Ilmu ini berangkat dari teori fisika dasar yang mendeskripsikan bahwa bunyi pada hakikatnya adalah gejala yang timbul akibat adanya benda yang bergetar dan menggetarkan udara di sekelilingnya. Oleh karena bunyi bahasa juga merupakan bunyi, bunyi bahasa tentunya diciptakan dari adanya getaran suatu benda yang menyebabkan udara ikut bergetar. Perbedaan antara bunyi bahasa dengan bunyi lainnya menurut fonetik adalah bunyi bahasa tercipta atas getaran alat-alat ucap manusia sedangkan bunyi biasa tercipta dari getaran benda-benda selain alat ucap manusia. Namun demikian, pada dasarnya deskripsi bunyi bahasa fonetik ini masih kurang lengkap sehingga akan dilengkapi oleh deskripsi bunyi bahasa menurut fonemik.
Dalam fonetik, bunyi bahasa dianggap setara dengan bunyi, yaitu sebuah gejala fisika yang dapat diamati proses produksinya. Fonetik memang berorientasi dalam deskripsi produksi bunyi bahasa serta cara-cara yang dapat mengubah bunyi bahasa itu dalam produksinya. Oleh karena itu, fonetik bertugas mendeskripsikan bunyi-bunyi bahasa yang terdapat di dalam suatu bahasa. Salah satu contoh konkretnya adalah identifikasi bunyi-bunyi kontoid dan vokoid dalam suatu bahasa.
Fonemik sendiri adalah ilmu yang mempelajari fungsi bunyi bahasa sebagai pembeda makna. Pada dasarnya, setiap kata atau kalimat yang diucapkan manusia itu berupa runtutan bunyi bahasa. Pengubahan suatu bunyi dalam deretan itu dapat mengakibatkan perubahan makna.
  1. Fonetik dan bidang kajiannya
1.      Jenis-jenis Fonetik
Berdasarkan dimana beradanya bunyi bahasa itu sewaktu dikaji, dibedakan adanya tiga macam fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris. Sewaktu bunyi itu bedara dalam proses produksi di dalam mulut penutur, dia menjadi objek kajian fonetik artikulatoris atau fonetik organis. Suatu bunyi bahasa itu berada atau sedang merambat di udara menuju telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik akustik. Lalu, sewaktu bunyi bahasa itu sampai atau berada di telinga pendengar, dia menjadi objek kajian fonetik auditoris.
a.         Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis meneliti bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diproduksi oleh alat-alat ucap manusia. Pembahasannya, antara lain meliputi masalah alat-alat ucap yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa itu; mekanisme arus udara yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa; bagaimana bunyi bahasa itu dibuat; mengenai klasifikasi bunyi bahasa yang dihasilkan serta apa kreteria yang digunakan; mengenai silabel; dan juga mengenai unsur-unsur atau ciri-ciri suprasegmental, seperti tekanan, jeda, durasi, dan nada.
b.         Fonetik akustik, yang objeknya adalah bunyi bahasa ketika merambat di udara, antara lain membicarakan: gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat di udara, spektrum, tekanan, dan intensitas bunyi. Juga mengenai skala desibel, resonansi, akustik produksi bunyi, serta pengukuran akustik itu. Kajian fonetik akustik lebih mengarah kepada kajian fisika daripada kajian linguistik, meskipun linguistik memiliki kepentingan di dalamnya.
c.         Fonetik auditoris meneliti bagaimaman bunyi-bunyi bahasa itu diterima oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu di dengar dan dapat di pahami. Dalam hal ini tentunya pembahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu bekerja. Bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa di pahami. Oleh karena itu, kiranya kajian fonetik auditoris lebih berkenaan dengan ilmu kedokteran, termasuk kajian neurologi.
Dari ketiga jenis fonetik itu jelas yang paling berkaitan dengan ilmu linguistik adalah fonetik artikulatoris, karena fonetik ini sangat berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi bahasa itu di produksi atau di hasilkan. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan kajian fisika, yang dilakukan setelah bunyi-bunyi itu dihasilkan dan sedang merambat di udara. Kajian mengenai frekuensi dan kecepatan gelombang bunyi adalah kajian bidang fisika bukan bidang linguistik. Begitupun kajian linguistik auditoris lebih berkaitan dengan ilmu kedokteran daripada linguistik. Kajian mengenai struktur dan fungsi telinga jelas merupakan bidang kedokteran.
  1. Proses pembentukan bunyi
Pada dasarnya bunyi bahasa adalah getaran atas benda apa saja karena adanya energi yang bekerja. Getaran bunyi ini cukup kuat dan dihantarkan ke alat dengar oleh udara sekitar. Sarana utama yang berperan dalam proses pembentukan bunyi bahasa adalah (1) arus udara, (2) pita suara, dan (3) alat ucap, ketiga sana ini juga yang oleh fonetisi di pakai sebagai dasar pengklasifikasian bunyi.
1.         Arus udara
Arus udara yang menjadi sumber energi utama pembentukan bunyi bahsa merupakan hasil kerja alat atau organ tubuh yang di kendalikan oleh otot-otot tertentu atas perintah saraf-saraf otak. Dengan demikian, arus udara ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi di ciptakan atas printah saraf-saraf otak tertentu;apakah arus udara menuju keluar dari paru-paru (arus udara agresif), atau arus udara ke dalam atau menuju paru-paru (arus udara ingresif)
2.         Pita suara
Pita suara merupakan sumber bunyi. Ia bergetar atau digetarkan oleh udara yang keluar atau masuk ke paru-paru. Pita suara terletak dalam kerongkongan dalam posisi mendapar dari muka ke belakang
3.         Alat Ucap
Alat-alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi-bunyi bahasa ini mempunyai fungsi utama lain yang bersifat fisiologis. Misalnya, parau-paru untuk bernafas, lidah untuk mengecap dan gigi untuk mengunyah. Ketika berbicara, organ-organ tubuh yang disebut sebagai alat ucap itu bekerja seperti pada proses ketika melakukan fungsi utamanya masing-masing. Jadi, tidak ada perbedaan oprasional yang berarti. Hanya soal pengaturan saja sehingga bisa difungsikan sebagai alat pembentukan bunyi.
Nama alat-alat ucap atau alat-alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut (dimulai dari dalam).
a.         Paru-paru (lung)
b.        Batang tenggorok (trachea)
c.         Pangkal tenggorok (laring)
d.        Pita suara (vocal cord) yang di dalamnya terdapat glottis, yaitu celah di antara dua bilah pita suara.
e.         Krikoid (cricoid)
f.         Lekum atau tiroid (thyroid)
g.        Aritenoid (arythenoid)
h.        Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)
i.          Epiglotis (epiglotis)
j.          Akar lidah ( root of the tongue)
k.        Pangkal lidah atau sering disatukan dengan daun lidah. Pangkal lidah (back of the tongue,dorsum)
l.          Tengah lidah ( middle of the tongue, medium )
m.      Daun lidah ( blade of the tongue, laminum)
n.        Ujung lidah ( tip of the tongue, apex)
o.        Anak tekak ( uvula)
p.        Langit-langit lunak ( soft palate, velum)
q.        Langit-langit keras ( hard palate,palatum)
r.          Gusi, ceruk gigi ( alveolum)
s.         Gigi atas ( upper teeth, dentum)
t.          Gigi bawah ( lower teeth, dentum)
u.        Bibir atas ( upper lip, labium)
v.        Bibir bawah ( lower lip, labium)
w.      Mulut ( mouth)
x.        Rongga mulut ( oral cavity )
y.        Rongga hidung ( nasal activity)
Nama-nama Latin alat ucap itu perlu diperhatikan karena nama-nama bunyi disebut juga dengan nama Latinnya itu. Misalnya, bunyi yang dihasilkan di bibir disebut bunyi labial, di ambil dari kata labium yaitu bibir, dan bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah dan gigi disebut bunyi apikondental, yang diambil dari kata apeks yaitu ujung lidah dan kata dentum itu gigi.
Alat ucap atau alat bicara yang dibicarakan dalam proses memproduksi bunyi bahasa dapat dibagi atas tiga komponen, yaitu:
a.       Komponen supraglotal
Komponen supraglotal ini terdiri dari tiga rongga yang berfungsi sebagai lubang resonansi dalam pembentukan bunyi, yaitu (1) rongga kerongkongan (faring), (2)ronnga hidung, dan (3)rongga mulut.
     Rongga kerongkongan yang terletak diatas laring ini merupakan tabung dan di bagian atasnya bercabang dua, yaitu yang berwujud rongga mulut dan rongga hidung. Peranan rongga kerongkongan ini hanyalah sebagai tabung udara yang akan turut bergetar apabila pita suara (yang terletak di laring) menimbulkan getaran pada arus udara yang lewat dari paru-paru. Volume rongga kerongkongan ini dapat diperkecil dengan menaikan laring, dengan mengankat ujung langit-langit lunak sehingga hubungan dengan rongga hidung tertutup, dan dengan menarik belakang lidah ke arah dinding faring.
Rongga hidung mempunyai bentuk dan dimensi yang relatif tetap dan tetapi dalam kaitannya dengan pembentukan bunyi mempunyai fungsi sebagai tabung resonansi. Peran ini terjadi ketika arus udara
b.      Komponen subglotal
Komponen subglotal terdiri dari paru-paru ( kiri dan kanan), saluran bronkial, dan saluran pernafasan ( trakea). Disamping ketiga alat ucap ini masih ada yang lain, yaitu otot-otot paru-paru , dan rongga dada. Secara fisiologis komponen ini digunakan untuk proses pernafasan, karena itu, komponen ini disebut juga sistem pernafasan. Lalu dalam hubungan nya dengan fonetik disebut sistem pernafasan subglotis. Fungsi utama komponen subglotal ini adalah “memberi” arus udara yang merupakan syarat mutlak untuk terjadinya bunyi bahasa.
c.       Komponen laring
Komponen laring(tenggorok) merupakan kotak yang terbentuk dari tulang rawan yang berbentuk lingkaran, didalamnya terdapat pita suara. Laring berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, hidung. Pita suara dengan kelenturanya bisa membuka dan menutup, sehingga bisa memisahkan dan sekaligus menghubungkan antara udara yang ada diparu-paru dan yang ada dimulut atau rongga hidung. Bila klep dibuka lebar-lebar udara yang ada pada paru-paru bisa berhubungan dengan yang ada di rongga mulut atau rongga hidung. Bila klep ditutup rapat, maka udara yang ada di paru-paru terpisah dengan yang ada di rongga mulut.
Kinerja pita suara dilaringlah yang mengakibatkan penggolongan bunyi bahasa menjadi bunyi bersuara (hidup) dan bunyi tidak bersuara (mati). Perbedaan pokok antara bunyi bersuara dan bunyi tidak bersuara terletak pada ada tidaknya gerakan buka-tutup pita suara ketika adanya pembentukan bunyi. Suatu bunyi dikatakan bunyi bersuara (hidup) apabila pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup secara cepat ketika mendapaatkan tekanan arus udara dari paru-paru. Sebaliknya, suatu bunyi dikatakan bunyi tidak bersuara (mati) apabia pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup. Tidak adanya gerakan membuka dan menutup pita suara ini disebabkan oleh (1) arus udara lewat tanpa hambatan yang berarti di antara kedua pita suara, atau (2) arus udara tidak dapat lewat sama sekali karena pita suara menutup rapat.
Kedua pita suara dalam laring terbuka akan terjadi celan yang membentuk V. Celah diantara kedua pita suara inilah yang di sebut glotis. Dengan demikian, glotis ini bisa tertutup dan bisa terbuka. Glotis terbuka digunakan untuk pembentukan bunyi-bunyi tidak bersuara, sedangkan glotis tertutup digunakan untuk membentuk bunyi-bunyi yang bersuara.
Penutupan rapat pita suara dengan demikian glotis juga tertutup dilakukan untuk pembentukan bunyi glotal [?] atau bunyi hamzah. Sementara itu, apabila pita suara terbuka sempit dengan demikian glotis juga terbuka sedikit digunnakan untuk membentuk bunyi frikatik-glotal [h]. Sebaliknya, kalau pita suara terbuka lebar dengan demikian glotis juga terbuka penuh biasanya terjadi saat menarik napas dalam-dalam.  
Dalam rangka proses produksi bunyi, pada laring inilah terjadinya awal mula bunyi bahasa itu; baik dengan aliran udara egresif maupun aliran aliran udara ingresif. Posisi glottis ( celah di antara pita suara) menentukan bunyi yang diproduksi apakah bunyi bersuara, bunyi tak bersuara, atau bunyi glottal.

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul.2013.Fonologi Bahasa Indonesia.Jakarta:Bhinneka Cipta