Minggu, 04 Juni 2017

PUISI

                                                               
                                                                      BUNGA KECIL
Belum terlihat keindahanmu....
semua seolah mengabaikanmu
seolah-olah tak terlihat
jangan bersedih bunga kecil

saat muali tumbuh besar....
keindahanmu mulai terlihat
dan semua mulai tertarik
mula berbahagialah bunga kecil

saat mekar....
keindahanmu terlihat jelas
semua mengagumi keindahanmu
an ingin menjadi sepertimu
mekar dan indah
tetap brbahagialah bunga kecil


by:vebydonari

Minggu, 21 Mei 2017

Semantik

A.Pengertian Semantik

Berikut ini adalah beberapa pengertian semantic:
1.pengertian semantik
Semantik (dari Bahasa Yunanisemantikos, memberikan tanda, penting, dari kata sematanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasakode, atau jenis representasi lain. Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain:sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.
Semantik Linguistik adalah studi tentang makna yang digunakan untuk memahami ekspresi manusia melalui bahasa. Bentuk lain dari semantik mencakup semantik bahasa pemrograman, logika formal, dan semiotika.
2. semantic dalam ilmu komputer
Dalam ilmu komputer, semantik merujuk pada arti bahasa, sebagai lawan dari bentuk mereka (sintaks). Menurut Euzenat, semantik "menyediakan aturan untuk menafsirkan sintaks yang tidak memberikan makna secara langsung tetapi membatasi kemungkinan penafsiran dari apa yang dinyatakan." Dengan kata lain, semantik adalah tentang penafsiran dari sebuah ekspresi. Selain itu, istilah ini diterapkan untuk beberapa jenis struktur data khusus dirancang dan digunakan untuk mewakili konten informasi.
            3. semantic dalam bahasa pemprograman
Semantik dari bahasa pemrograman dan bahasa lainnya merupakan isu penting dan bidang studi dalam ilmu komputer. Seperti sintaks bahasa, semantik dapat didefinisikan dengan tepat.
            4.semantic Dalam Linguistik
   Dalam linguistik, semantik adalah sub-bidang dikhususkan untuk mempelajari makna, seperti yang melekat di tingkat kata, frasa, kalimat, dan unit yang lebih besar dari wacana (teks disebut). Daerah basis penelitianadalah makna dari tanda-tanda, dan studi tentang hubungan antara unit linguistik yang berbeda dan senyawa.



B. Unsur-unsur semantik

   Semantik berhubungan dengan tanda-tanda, sintaksis berhubungan dengan gabungan tanda-tanda (susunan tanda-tanda) sedangkan pragmatik berhubungan dengan asal-usul, pemakaian dan akibat pemakaian tanda-taqnda di dalam tingkah laku berbahasa. Penggolongan tanda dapat dilakukan denagn cara:

1.    Tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena pengalaman, misalnya:

   a.    Hari mendung tanda akan hujan.

   b.    Hujan terus-menerus dapat menimbulkan banjir.

   c.    Banjir dapat menimbulkan wabah penyakit dan kelaparan.

2.    Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, diketahui manusia dari suara binatang tersebut, misalnya:

   a.    Anjing menggonggong tanda ada orang masuk halaman.

   b.    Kucing bertengkar (mengeong) dengan ramai suaranya tanda ada wabah penyakit atau keribytan (bagi masyarakat bangsa Indonesia yang ada di Jawa Barat), dst.

3.    Tanda yang ditimbulkan oleh manusia, tanda ini dibedakan atas:

   a.    Yang bersifat verbal, adalah tanda yang dihasilkan menusia melalui alat-alat bicara.

   b.    Yang bersifat non-verbal, dibedakan menjadi 2, yaitu:

   1)     tanda yang dihasilkan anggota badan, dikenal sebagai bahasa isyarat,     misalnya   acungan jempol bermakan hebat, bagus.

   2)   tanda yang dihasilkan melalui bunyi (suara), misalnya bersiul bermakna gembira, memanggil, ingin kenal, dsb.


C.  Jenis – Jenis Makna

1.    Makna Leksikal: makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, makna apa adanya, makna yang ada di dalam kamus.

Misalnya, kuda bermakna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.

2.    Makna Gramatikal: makna gramatikal terjadi apabila terdapat proses afiksasi, reduplikasi, komposisi dan kalimatisasi.

Misalnya, berkuda, kata dasar kuda berawalan ber- yang bermakna mengendarai kuda.

3.    Makna Kontekstual: makna sebuah kata yang berada di dalam suatu konteks. Misalnya:

   a.   Rambut di kepala nenek belum ada yang putih (bermakna kepala)

   b.   Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan konteks situasinya, yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu, misalnya: tiga kali empat berapa? Pertanyaan tersebut apabila dilontarkan kepada anka SD jawabannya adalah dua belas, tetapi apabila dilontarkan kepada tukang cetak foto jawabanya adalah dua ratus atau tiga ratus, karena pertanyaan tesebut mengacu pada biaya pembuatan pas photo yang berukuran tiga kali empat centimeter.

4.    Makna referansial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Misalnya :

   1)    orang itu menampar orang

   2)    orang itu menampar dirinya

Pada (1) orang1 dibedakan maknanya dari orang2 karena orang1 sebagai pelaku dan orang2 sebagai pengalam, sedangkan pada (2) orang memiliki makna referensial yang sama dengan  orang1 dan orang2 karena mengacu kepada konsep yang sama.

5.    Makna kognitif disebut juga makna denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya, antara lain itu, ini, ke sana, ke sini.

Misalnya orang itu mata duitan.

6.    Makna konotatif adalah makna yang bersifat negatif, misalnya berbunga-bunga sampai tidak tahu sedangkan makna sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif, misalnya dia adalah bunga di kampung itu.

7.    Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari sebuah konteks atau asosiasi apa pun, misalnya kata kuda memiliki makna konseptula sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.

Misalnya Kuda memiliki konseptual sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai.

8.    Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa.

 misalnya kata melati berasosiasi dengan suci atau kesucian, kata merah berasosiasi dengan berani.

9.    Makna idiom adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna berlainan.

misalnya meja hijau bermakna pengadilan, membanting tulang bermakna bekerja keras.

10.    Makna pribahasa adalah makna yang hampir mirip dengan makna idiom, akan tetapi terdapat perbedaan, makna pribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai pribahasa, sedangkan makna idiom tidak dapat diramalka



D. Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis

   Dalam kajian linguistik, kita mengenal apa yang disebut dengan fonologi , morfologi , dan sintaksis . Fonologi merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang bertugas mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan dan mengidentifikasi kata-kata tertentu . Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari pembentukan kata . Sementara itu, sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda bahasa , yakni hubungan antara kata/frasa yang satu dengan lainnya dalam suatu kalimat. Semantik sebagai cabang ilmu bahasa memiliki hubungan yang erat dengan ketiga cabang ilmu bahasa di atas (fonologi, morfologi, dan sintaksis). Ini berarti, bahwa makna suatu kata atau kalimat ditentukan oleh unsur bunyi (tekanan suara dan atau nada suara atau yang lebih umum adalah suprasegmental), bentukan kata (perubahan bentuk kata), maupun susunan kata dalam kalimat.

satra permainan tradisional



 Permainan Tradisional Abc Lima Dasar di Indonesia





permainan tradisional Indonesia abc lima dasar
Masih ingatkah kamu dengan permainan yang satu ini? Nama permainan ini diambil karena kamu bermaian abc an dengan mengunakan ke lima jari. Permainan ini mengharuskan kamu berfikir dengan cepat. Memainkan permainan tradisional yang satu ini tidak menggunakan alat apapun hanya menggunakan jemari kita sebagai perhitungannya.

permainan ini dimainkan oleh tiga sampai lima orang, semakin banyak semakin seru. Cara bermainnya mudah, kamu dan teman-temanmu menyepakati nama-nama yang nantinya akan menjadi tema, misalkan nama-nama hewan, nama-nama pemain bola atau nama-nama negara. Nama-nama tersebut akan menjadi tema permainan tradisional abc lima dasar.

Setelah itu kumpulkan jari-jari temanmu dan mulai berhitung dengan huruf alfabet. Contoh, semua jari yang keluar dari teman-teman ada 10 huruf alfabet kesepuluh adalah “H” nah huruf ini akan menjadi huruf nama-nama hewan yang berawalan huruf “H”.

Pemain yang menjawab paling akhir atau tidak bisa menjawab akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati diawal permainan. Manfaat permainan ini adalah mempercepat kinerja berfikir otak.

Sumber : http://azzamaviero.com/


Contoh Morfologi Dalam Cerpen

CONTOH MORFOLOGI DALAM CERPEN

Ari adalah seorang juru masak yang sangat terkenal dan patut diperhitungkan didesanya, yaitu desa suka maju . Tanpa kehadiran  Ari, maka sebuah perhelatan kenduri tidak akan meriah dan memuaskan tamu undangan. walaupun demikian, Ari tidak pernah pandang bulu dalam melayani pesanan masyarakat desa suka maju.

Ketika usia Ari senja, anak Ari yakni Azrial mengajaknya untuk tinggal bersama di Jakarta. Akan tetapi, Ari bimbang memikirkannya karena hanya terdapat satu juru masak didesanya. Sehingga Ari meminta pada Azrial untuk diberikan satu kesempatan lagi untuk memasak pada kenduri milik anak Mangkudun.

Proses Morfologi

kalimat 1
moefem : 22
moefem bebas : 16 (Ari ,adalah, orang, juru, masak, yang, sangat, kenal, dan, patut, perhitung ,desanya, yaitu, desa ,suka, maju)
morfem terikat : (di,ter,se,per,an)


kalimat 2
morfem : 21
morfem bebas : 14 (Tanpa,hadir,Ari,maka,sebuah,helat,kenduri,tidak,akan,meriah,dan,muas,tamu,undangan)
morfem terikat : 5 (ke,per,an,me,kan)

kalimat 3
morfem : 18
morfem bebas : 14  ( walaupun, demikian, Ari, tidak ,pernah ,pandang, bulu ,dalam, layan, pesan, masyarakat, desa, suka, maju.)
morfem teikat :4 (me,I,an,di)

kalimat 4
morfem :15
morfem bebas: 12 (Ketika,usia,Ari, senja, anak, yakni, Azrial, ngajaknya, untuk, tinggal,sama,jakarta.)
morfem terikat : 3 ( ber, me, di )

kalimat 5
morfem : 16
morfem bebas : 12 ( Akan, tetapi, Ari, bimbang ,mikirnya ,karena, hanya,dapat ,satu, juru, masak, didesanya)
morfem terikat : 4( me,kan,ter,di)

kalimat 6:
morfem :24
morfem bebas : 16 (hingga ,Ari, minta, pada ,Azrial, untuk, beri, satu ,sempat, lagi, untuk ,pada ,kenduri ,milik, anak ,Mangkudun.)
morfem terikat :6 ( se,me,di,kan,ke,an)





















HUBUNGAN TEORI ,KRITIK,DAN SEJARAH SASTRA

Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah Sastra.

Berikut adalah pembahasanya:
Sejarah Sastra ada baiknya bila kita mengetahui apa itu pengertian dari teori sastra,kritik sastra,dan sejarah sastra. Berikut ada lah pengertiannya:

Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati.

Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra

Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra.

Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.
Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu.
Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.


Kamis, 18 Mei 2017

MORFOLOGI

                                                   MORFOLOGI
Morfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk kata
Morfologi terbagi menjadi 2 yaitu:
a.       Morfem bebas: adalah morfem yang bisa berdiri sendiri ( kata dasar)
b.      Morfem terikat: adalah morfem yang tidak bisa berdiri sendri
Hasil  dari morfen terikat adalah
1)      Kata berimbuhan
2)      Pemajemukan kata
3)      Pengulangan kata

Bentuk-bentuk kata
Berikut ini adalah bentuk-bentuk kata:
a.       Kata dasar
Adalah kata yang belum berimhan atau tidak berimbuhan
Contoh: sepeda,makan,masak,tidur dsb
b.      Kata imbuhan
Bisa disebut kata turunan yaitu kata-kata yang telah berubah bentuk dan makna
Contoh: berlari,tertidur,bermain,dsb
c.       Kata ulang adalah bentuk kata yang merupakan pengulangan.
Contoh: ibu-ibu,rumah-rumah,adik-adik.dsb.
d.      Kata majemuk
Adalah kata terdiri dari dua atau lebih yang berhubungan seara padu dan merubah bentuk arti atau makna.

Proses morfologi
Proses morfologi terbagi menjadi 3 yaitu:
1.       Proses afiksasi
Proses afikasi adalah proses mengimbuhkan kata.dalam kata lain afiksasi adalah imbuhan
Berikut ini adalah proses afiksasi
a.       Prefix: adalah kata berimbhan yang berada di awal kalimat
b.      Sufiks: adalah kata berimbuhan yang terletak di akhir kalimat
c.       Infiks: aalah imbuhan yang terletak di tengah kata. Atau bisa disebut kata sisipan.
d.      Konfiks: adalah gabungan dari prefix dan sufiks atau bisa disebut kata berimbuhan yang terletak pada awal dan akhir kata

e.      Simulfiks: adalah gabungan dari beberapa imbuhan . atau bisa disebut kata yang terdiri dari dua imbuhan atau lebih.

Minggu, 26 Maret 2017

KONGRES BAHASA

Kongres Bahasa Indonesia I
·         Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Tanggal 18 Agustus 1945, dilakukan pendatangan Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.

Kongres Bahasa Indonesia II
·         Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
·         Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
·         Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).

Kongres Bahasa Indonesia III
·         Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantabkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia IV
·         Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.

Kongres Bahasa Indonesia V
Tanggal 28 Oktober hingga 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei DarussalamMalaysiaSingapuraBelandaJerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan mempersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia VI
·         Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Diikuti oleh peserta sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, HongkongIndiaItaliaJepangRusiaSingapuraKorea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan penyusunan Undang-Undang Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia VII
·         Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan pembentukan Badan Pertimbangan Bahasa.

Kongres Bahasa Indonesia VIII
Pada bulan Oktober tahun 2003, para pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia ke- VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada bulan Oktober tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni Bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun dijadikan bulan bahasa. Pada setiap bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan bahasa tahun ini mencakup juga Kongres Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia IX
Dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesusasteraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan kesusasteraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan Kongres IX Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta.
Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres tahun ini.



DAFTAR PUSTAKA

wikipedia.org/wiki/Kongres_Bahasa_Indonesia